Jakarta, 18 Juni 2026 – Pengurus Asosiasi Nazhir Indonesia (ANI) dan Forum Nasional Mahasiswa Manajemen Zakat dan Wakaf (FORNAS MAZAWA) menggelar pertemuan strategis dalam suasana santai namun produktif di Jozo Cafe, Jakarta Timur, Kamis (18/6). Pertemuan ini menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat kolaborasi kedua organisasi setelah sebelumnya menandatangani Nota Kesepahaman (MoU).
Hadir mewakili ANI, yaitu Imam Nur Azis selaku Presiden ANI dan Ahmad Faisal selaku Anggota Divisi Inovasi dan Digitalisasi. Sementara dari FORNAS MAZAWA hadir Bagus selaku Ketua FORNAS MAZAWA, bersama Hadinata dan Ayis.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh keakraban di ruang pertemuan sembari menikmati hidangan yang tersedia. Pertemuan ini difokuskan pada pembahasan tindak lanjut MoU yang telah ditandatangani melalui penyusunan perjanjian kerja sama program yang akan disepakati dan dijalankan secara bersama.
Ketua FORNAS MAZAWA menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus membuka peluang kolaborasi yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan perwakafan di Indonesia. Selain itu, FORNAS MAZAWA juga tengah mempersiapkan berbagai agenda strategis menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) yang direncanakan berlangsung pada September 2026 di Solo.
Presiden ANI, Imam Nur Azis, menyambut baik kunjungan tersebut dan menyampaikan apresiasi atas semangat kolaborasi yang ditunjukkan oleh para mahasiswa. Menurutnya, potensi wakaf di Indonesia sangat besar, namun realisasinya masih jauh dari optimal.
“Potensi wakaf di Indonesia sangat besar, tetapi realisasinya masih relatif kecil. Karena itu, peran mahasiswa menjadi sangat penting dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat mengenai wakaf agar semakin banyak aset wakaf yang dapat diberdayakan untuk kemaslahatan umat,” ujar Imam.
Beliau juga menambahkan bahwa kerja sama dengan ANI sebagai organisasi profesi nazhir dapat membuka peluang peningkatan kompetensi, pengembangan kapasitas, hingga jenjang karier profesional di bidang perwakafan bagi para mahasiswa.
Pada kesempatan yang sama, Ahmad Faisal memaparkan berbagai program ANI yang berfokus pada peningkatan literasi wakaf di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan Indeks Literasi Wakaf yang pernah dirilis oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI), tingkat pemahaman masyarakat terhadap wakaf masih berada pada kategori yang perlu terus ditingkatkan. Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya pengelolaan dan pengembangan aset wakaf di Indonesia.
Melalui diskusi yang konstruktif, kedua belah pihak sepakat untuk membangun kerja sama strategis dalam penguatan literasi wakaf melalui berbagai program yang terintegrasi, melibatkan kalangan mahasiswa, akademisi, praktisi, serta masyarakat luas.
Kolaborasi ANI dan FORNAS MAZAWA diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem wakaf nasional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia perwakafan, serta menghadirkan dampak yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
“Insya Allah sinergi ini akan menjadi awal dari berbagai program kolaboratif yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan wakaf dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” tutup perwakilan kedua organisasi.

